REINKARNASI SOSOK SOE HOK GIE

Soe hok Gie.
Siapa yang tidak mengenal sosok Soe Hok Gie terutama dikalangan aktivis mahasiswa. Pria yang selalu galau ini akrab disapa dengan panggilan Gie. Ya, Gie selalu galau dengan kondisi Bangsa dimasanya. Gie selalu mengkritiki kebijakan yang dinilai tidak pro rakyat semasa rezim Soekarno dan Soeharto. Gie dengan idealismenya tidak takut dengan sejumlah ancaman terror yang ditujukan kepada dirinya. Gie sering menghabiskan waktunya mendaki gunung sebagai bentuk refreshing setelah penat mengkritiki masalah bangsa yang tak kunjung selesi. Gie wafat pada pendakian terakhirnya dipuncak gunung Semeru pada usia yang terbilang muda, 27 tahun (17 Desember 1942 – 16 Desembar 1969).

 Berawal dari tidak sesuainya idealisme yang saya yakini dengan kondisi dilapangan membuat saya mengenal sosok Gie. Seorang teman menyarankan saya untuk menonton film Gie dan membaca buku “Catatan Seorang Demonstran”. Kalimat yang paling berkesan bagi saya adalah “lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan”. Sejak saat itulah saya menjadikan Gie manjadi idola saya dan saya berusaha untuk mendapatkan buku “Catatan Seorang Demonstran” yang sudah langka dipasaran (saat itu saya memesan ditoko buku di seluruh kota Bandar Lampung). Setiap saya mengunjungi kota lain, saya selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi toko buku dan mencari buku tersebut. pencarian saya berakhir sekitar 5 bulan kemudian.

Waktu senggang  biasa saya gunakan untuk membaca buku tersebut, hingga saya merasakan ada persepsi baru yang tumbuh dalam pikiran saya. Saya menganggap laki-laki yang ideal adalah yang memiliki cara berfikir dan bertindak seperti Gie. Saya pernah mengatakan kepada teman saya bahwa “seandainya jaman sekarang masih ada orang yang kaya Gie, pasti keren banget deh. Saya pasti bakal menjatuhkan hati sya untuk dia”.

Benar saja, tidak sampai setahun statement itu saya ucapkan saya menemukan sosok Gie. Seperti reinkarnasi Gie. Pria yang saya nilai cerdas, kritis, loyal, berani dan idealis.

Seperti remaja yang sedang jatuh cinta pada umumnya, saya berusaha menarik perhatian orang tersebut hingga akhirnya saya menyadari bahwa rasa yang saya miliki bukanlah rasa tulus jatuh cinta atau apapun namanya, tapi rasa ini hanyalah obsesi untuk bisa lebih dekat dengan sosok sang idola

Kemarin malam sya berdiskusi dengan orang tersebut, dia mengatakan “saya hanya memiliki semangat, tidak ada lagi yang saya miliki selain semangat

Semoga semangatmu akan terus terjaga sejalan dengan idealismemu bung!

Semoga kelak 10/20 tahun lagi kita bertemu saya masih menemukan sosok Gie pada dirimu.

Dan semoga akan bermunculan Gie Gie baru yang akan memperbaiki dan membangun bangsa ini.

 

SEMOGA,.

 

Bogor, 20 April 2015

Dari Seorang Pembelajar untuk Pemuda-Pemudi yang hanya memiliki Semangat!!!

Komentar